Selasa, 23 Januari 2018


Jalan Cinta para Aktivis
(Ditulis saya dlm buku Belajar Merawat Indonesia)

Foto teman2 Beasiswa Aktivis angkatan 1
Hanya perlu keikhlasan untuk menjalani jalan ini, keikhlasan untuk berpikir lebih, keikhlasan untuk berkorban lebih, keikhlasan untuk disakiti lebih, dan keikhlasan untuk  berlapangdada lebih. Inilah hal yang diperlukan  untuk menjalani jalan ini. Apakah jalan ini sebegitu sulit untuk dilalui?
Bukanlah sebuah jabatan dan kedudukan yang kita harapkan, kita hanya ingin memenuhi janji untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Ah, mungkin kita terlihat berpura-pura tak cinta harta benda, tetapi ya inilah diri kita dan perjuangan kita. Jalan ini tidak mudah, Kawan. Jalan ini, ya jalan ini sampai akhirnya mempertemukan kita semua disini. Di jalan ini kita bersama berjuang, ah terlalu sepele bila dibandingkan dengan para pejuang, namun kita sering menggunakan kata ini untuk membangkitkan rasa semangat kita untuk tetap berada di jalan ini.
Hanya perlu keikhlasan untuk menjalani jalan ini, keikhlasan untuk berpikir lebih, keikhlasan untuk berkorban lebih, keikhlasan untuk disakiti lebih, dan keikhlasan untuk  berlapangdada lebih. Inilah hal yang diperlukan  untuk menjalani jalan ini. Apakah jalan ini sebegitu sulit untuk dilalui?
 Mengapa persyaratannya begitu berat dan terlihat sangat menyakitkan? Apa balasannya?
Balasannya hanya Ridha Ilahi. Ya, balasannya hanya itu saja. Jika kau mengharapkan lebih maka bukanlah di jalan ini tempatnya. Silahkan kau cari jalan lainnya. Jika kau dapati aku mendapatkan hal-hal yang lainnya ini merupakan bonus. Setelah lelah dan letih seharian menjalankan sebuah kegiatan, bonusnya itu tak lebih nasi bungkus untuk makan siang atau makan malam. Anehnya, setelah kegiatan itu berlangsung kita merasakan senang dan bahagia, padahal setelah kegiatan ini kita harus kembali lagi menjadi mahasiswa, diterjang oleh beberapa tugas-tugas dan ujian-ujian mata kuliah. Kadang kala kita harus memutar otak bagaimana semua tugas-tugas itu dapat dikerjakan dengan baik, namun amanah di organisasi juga berjalan tak kunjung dengan optimal. Atau tugas kita lainnya menjadi anak bagi orangtua tercinta, dan teladan selaku kakak bagi adik-adik kita.
Semuanya harus berlangsung di waktu yang bersamaan, hingga terkadang aku berpikir bahwa kita menggadaikan masa muda kita dengan perjuangan ini. Namun, aku tahu bahwasanya kita ternyata sedang dijaga oleh-Nya dari perbuatan-perbuatan sia-sia, dari perbuatan-perbuatan yang justru akan menambah dosa.
Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan. Tetapi, kawan, entah mengapa kita pilih jalan ini. Aku pun sempat bertanya pada diriku menagapa jalan ini yang dipilih. Karena cinta, ya karena cinta sehingga kita saling terhubung dalam jalan ini, dengan ikatan atas nama cinta untuk tetap terus bersama. Emas menggunung dan mahkota bertahtakan berlian pun tidak akan sanggup membayar ini semua. Namun, aku masih heran, mengapa kita masih mau berada di jalan ini. aku menyebutnya jalan cahaya, dimana jalannya yang panas, dan aku beraharap ada angin surga yang berhembus untuk sekedar menyejukkan hati ini.
Bahkan orang-orang di sekitar kita pun tidak menghargai, tetap masih saja kita harus berada di jalan ini. Tidak sedikit mereka mencemooh diri kita. Banyak yang berkata ini hanyalah pelarian dari akademik kita yang buruk. Atau banyak yang berkata ini adalah manuver agar kita dapat terkenal dengan cepat. Atau yang lebih menyakitkan lagi banyak yang berkata bahwa kita hanyalah sekelompok orang-orang yang kurang kerjaan. Sungguh miris, kawan, ya semua itu tidaklah berbayar dan hanya atas dasar cinta kita melakukannya.
Mereka tidak tahu kalau kita berjuang untuk nilai akademik, sembari harus memikrikan program-program kerja yang telah disusun, mengerjakan tugas di sepinya malam, berselimutkan bintang temaram yang menentramkan hati, dan tidur bersama senandung  nyanyian malam.
Matematika kita sungguh membingungkan, siapa diri kita dan siapa mereka. Kita tidak terhubung dengan ikatan darah, namun mengapa kita memperjuangkannya, memikirkannya, mau bersusah payah dan membantunya? Lantas apa yang kita dapatkan? Kita hanya tersenyum jika pertanyaan itu terlontar. Sungguh matematika yang sangat membingungkan.
Kawan, bekerja di saat yang lain terlelap, bersemangat di saat yang lain mengeluh. Berteriak di saat yang lain diam, dan berlari di saat yang lain berjalan. Angkuhnya kita sering bersuara bahwa jalan inilah yang sangat membutuhkan kita. Namun ternyata, kawan, kitalah yang sebenarnya membutuhkan jalan perjuangan ini. Untuk mencari ridha-Nya, kitalah yang memerlukan jalan ini untuk merasakan anginnya berjuang, kitalah yang membutuhkan jalan ini untuk senantiasa saling terhubung, dalam ikatan yang disebut dengan ukhuwah.
Terkadang lelah itu saling menghinggapi, terkadang jenuh itu saling menghinggapi, terkadang air mata itu tak tertahankan dan peluh terus menetes. Namun, aku tahu pasti kita akan selalu ada untuk menggenggam tangan ini, untuk memberikan sandaran, untuk memberikan senyuman paling hangat, dan untuk menghapus air mata ini. Memberikan cinta penawar luka.
Biarkan mereka, yang tidak tahu apa-apa terus mencemooh kita, biarkan mereka terus menghakimi kita, biarkan mereka terus menyudutkan kita, namun aku tahu pasti kau dan aku, kita akan terus berjalan di jalan ini, mencari puing-puing berserakan, menyusunnya dalam sebuah kumpulan mozaik indah untuk agama, untuk almamater, dan untuk bangsa kita. Untuk sekedar sebuah torehan indah dalam episode hidupku.
Inilah jalan hidup kita, jalan cahaya yang penuh cinta, aku lebih senang menyebutnya dengan jalan cinta, karena hanya atas dasar inilah kita, aku dan kau, dapat berjalan bersama, dengan matematika yang sangat membingungkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NHW 9 social venture

NHW 9 : Bunda Sebagai Agen Perubahan “Setelah menemukan passion (ketertarikan minat ) kita ada di ranah mana, kita mulai melihat isu ...